Kamis, 20 Januari 2011

Beberapa Permasalahan Yang Sering Di Temui Pada Satria FU

Saya sendiri juga pengguna motor jenis ini (Satria F150). Di sini akan saya coba share beberapa tips dalam mengatasi masalah yang sering timbul pada Satria FU 150. Jika Anda baru saja membeli Satria F150, atau mungkin berencana untuk membelinya, jangan kaget jika ada beberapa masalah “klasik” yang timbul. Kenapa saya bilang klasik? Karena dari pertama kali motor ini keluar, dari yang CBU sampai yang lokal, masalahnya cenderung sama. Biasanya masalah standar pada Satria F150 diantaranya knalpot nembak, berat pada putaran bawah, sering mati mendadak, mesin mati jika baru start langsung di gas, bunyi tik-tik-tik mirip mesin jahit, temperatur mesin ekstra panas, lampu depan kurang terang, dan masalah keamanan (posisi coil rawan hilang).
* Knalpot nembak, berat pada putaran bawah, sering mati mendadak, mesin mati jika baru start langsung di gas. Atasi dengan mengganti pilot jet dengan ukuran yang lebih besar. Pilot jet standar bawaan Satria F150 adalah 12,5, terlalu kecil untuk ukuran mesin 150 CC. PJ kekecilan mengakibatkan mesin kurang mendapatkan pasokan bensin yang cukup sehingga putaran mesin mbrebet (tersendat) dan kadang nembak pada knalpot, dalam kondisi dingin (baru start), mesin akan mati jika di gas mendadak. Bensin juga berfungsi sebagai pendingin mesin, jika pasokan kurang suhu mesin menjadi sangat tinggi, buntut2nya mengakibatkan mesin suka mati2 sendiri karena overheat. Dari pengalaman saya, semua masalah di atas teratasi dengan mengganti pilot jet dengan ukuran 17,5. Tambah boros bensin? Ya resiko lah, sudah hukum alam, kalau mau irit lebih gampang lagi, taruh aja di garasi, dijamin irit bensin. Tapi nggak parah-parah amat kok tambah borosnya, dari standar sekitar 33 km/liter jadi 31-32 km/liter. Masih wajar lah, namanya juga motor hoby, ya jangan dibandingkan sama kelas ekonomis, kalau mau yang ekonomis mending beli supra fit aja, dijamin fiiiiiit terus dah.
* Bunyi tik-tik-tik mirip mesin jahit. Atasi dengan mengencangkan setelan rantai keteng. Rantai keteng pada motor jenis ini sangat panjang, tahu sendiri kan DOHC (Double Over Head Camshaft), ya resikonya setelan gampang berubah karena panjangnya rantai. Tapi untuk yang satu ini, sepertinya udah ciri khas Satria FU 150. Saya sendiri juga belum bisa menghilangkannya 100 %, paling cuma bisa mengurangi saja. Selain mengencangkan rantai keteng, oli mesin juga harus yang bagus, yang full syntetic lah, masalah merk sih terserah Anda mau pakai yang mana. Kalau saya sendiri sekarang pakai Repsol SAE 15W-40, cukup bagus kok buat harian. Pernah saya pakai oli merk Total Racing yang harganya lebih mahal dan jualnya nggak di sembarang tempst, setelah saya banding-bandingin nggak jauh beda kok, makanya mending pakai yang murah dan gampang nyarinya. Kalau dirasa masih kurang halus, pakai yang
viscositas/kekentalannya lebih tinggi, SAE 20W-50 misalnya, kekentalan yang lebih tinggi bisa meredam suara mesin, tapi ya jangan terlalu tinggi, ikut aturan standarnya aja SAE 10W-40 s.d. SAE 20w-50. Terus jangan telat ganti olinya, 2500 km atau 3 bulan, lebih sering lebih bagus buat mesin (tapi nggak bagus buat dompet). Kalau saya sendiri sih ganti oli setiap 2 bulan, soalnya kalau pakai itungan km bisa setahun sekali baru ganti oli, lha wong motor cuma buat kerja jarak 2 km, kalau nunggu 2500 km ……
* Temperatur mesin Satria FU ekstra panas.
Untuk yang ini wajar aja kok buat mesin kompresi 10,2:1 (CKD) atau 11:1 (CBU). Saran saya, gunakan oli yang agak encer untuk memperingan kerja mesin. Dan jangan memanaskan mesin terlalu lama. 2 menit cukup. Masalahnya ini motor kan nggak ada kipas pendingin, harus jalan baru kena angin, kalau terlalu lama justru nggak bagus. Coba aja kalau nggak percaya, dijamin dalam 1 bulan knalpot bakalan berubah warna jadi mirip batu bata. Satu lagi, jangan pernah melepas alumunium voil yang menempel pada body viber dekat knalpot. Saya punya pengalaman buruk soal ini. Gara-gara nih alumunium voil lepas waktu nyuci motor, pas saya pakai buat jalan Tangerang-Cibitung sampai rumah body vibernya jadi peot meleleh karena kepanasan dan tahu nggak harganya kalau mau ganti? 140 ribu bro, itu yang CKD, kalau yang CBU bisa lebih mahal lagi. Untuk masalah panasnya mesin, bisa juga dikurangi dangan cara menambahkan kipas pendingin pada oil coolernya, nggak mahal kok, beli aja kipas yang biasa dipake buat PC yang bisa dicari di toko komputer harga 15ribu, kalau yang biasa (tanpa lampu led) cuma 6ribu kok! Untuk dudukannya dipakai grill fan ukuran 8 cm (beli di toko elektronik, harga 4.250), terus cuma diikat pake tali kabel. Jadi gak perlu pake dilas atau dibor.
* Lampu depan kurang terang Bisa diatasi dengan mengganti pakai lampu halogen, tapi yang ini saya tidak menyarankan mengingat resikonya bisa fatal (reflektor meleleh karena kepanasan). Saran saya cukup merubah posisi plat nomor polisi yang agak menutupi sorotan lampu. Yang ini harus ke tukang las. Kalau sayang sama yang aslinya, bikin aja pakai besi-besi bekas, murah kok, nggak sampai 50rb.
* Posisi coil pengapian rawan hilang. Pernah suatu kali teman sekerja saya motornya (Satria FU 150) tidak bisa dinyalakan, sudah gantian nge slah tetep nggak mau nyala juga, bahkan sampai didorong tetep nggak nyala, padahal kan motor baru saya pikir, masa segitu parahnya. Ternyata setelah dicek pengapiannya, busi tidak keluar api sama sekali, usut punya usut eh…..ternyata coil pengapiannya nggak ada, raib digondol maling. Ya mau nggak mau harus beli ke BERES dah, “cuma Rp480.000,-” wakakakak. Setelah saya analisa, ternyata memang posisi coil pengapiannya gampang diambil, bahkan sama maling yang belum profesional sekalipun. Untuk mengatasinya bisa dengan menambahkan sekat menggunakan plat (saya pakai bekas plat nomor polisi) dan diikatkan ke rangka menggunakan kawat (yang agak kuat tentunya). Murah kok, plat pakai bekas, kawat bisa minta aja sama tetangga kalau mau lebih irit lagi.
Itulah sedikit tips dari saya, semoga berguna.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar